Nasihat Ibu Bulan
Ibu Bulan memaksaku agar terpejam. Sedang ingatan, memintaku lebih lama untuk mengenang. Hingga dia beranjak redup, masih saja mata ini tak dapat aku tutup. Kubiarkan angin mengecup mesra kedua pipi. Lebih sejuk. Aku pikir daripada air mata yang mengalir tak terkendali.
Sekali lagi Ibu Bulan mengingatkan. Kita telah berada di ujung malam. Sunyi sudah kenyang menelanmu sendirian. Pulanglah. Beri tahu Matahari, kamu sudah pulih. Semesta memang tak 'kan berhenti berelegi. Pilihanmu: menangisi atau ikut bernyanyi.
KEREN BGT ANJIR SINI GUE BETOT
BalasHapus