Beranugerahkan Musibah
Malam menghembus tenang di sisa-sisa rintik hujan. Yang ia buat semilir angin seperti halnya bercinta. Yang ia habiskan gelap dingin 'tuk bertanya-tanya:
Apakah Sang Pagi akan menemukan pencahayanya?
Apakah setiap gelap terdapat terang pada ujungnya?
Apakah hangat 'kan memelukku bersahaja?
Malam senang bertanya pada bulan. Esok pun menjawab dengan enggan. Dibiarkannya malam cemas kebingungan. Diiringi sahutan guntur yang disisakan oleh hujan.
Pada dedaunan hijau pagi-pagi, hujan yang semalam tak begitu saja pergi. Ia memberi tetes embun di sana-sini. Tak ingin hadirnya hanya musibah. Andai malam tahu, bagi pagi dialah anugerah.
Komentar
Posting Komentar