Babak 2: Tarian Usai, Kita Kalah
Kita tahu betul, bukan Malam yang menulis kita. Bukan pula yang merampas diri dari masing-masing kita. Ia bukan pemilik semesta. Ia adalah bentuk indah dari segala buruk kita.
Kita cukup tahu, setidaknya kita bersenang-senang di panggung itu semalaman. Menciptakan melodi klasik dari tubuh kita yang bergesekan. Tak lupa meneriakkan amin untuk doa-doa yang bersyair atas dirinya sendiri. Amin.
Kita juga tahu, segala gerak dan lekuk tubuh kita adalah bentuk pengultusan terhadap rasa dan karsa. Namun, pertunjukan kita t'lah usai. Tubuh kita hancur bercerai-berai. Yang tersisa hanyalah doa-doa kita yang abadi menggema di sepanjang waktu yang fana.
Kini, terdengar segala tangisan merdu oleh Malam. Terlihat pula ia memeluk dua ikat sedap malam di dadanya.
"Sudah waktunya, ya?"
Malam mengangguk.
Dengan menyebut segala tulus lagi teduh tarianmu, kita kalah.
(April 2023)
Komentar
Posting Komentar