Sajak Tanpa Kamu (4): Pantaskah Bersorai?
Perpisahan adalah sastra yang paling menyakitkan. Sastra yang menuntut kenestapaan juga kemasygulan. Ia menyekat paksa dua insan dari tabahnya ketulusan; menuntut keelokkan dari hampanya kesendirian; dan menggugat penerimaan dari kerasnya penyangkalan.
Hadirnya mengamini segala patah & remuk yang berkecamuk. Sosoknya menari-nari di atas sepi yang mencaci. Wujudnya lahir dari malam getir bertabur sesal. Dukanya lahir dari angin keji yang membawa dirinya pergi. Pun bicaranya memaksa manusia menyandarkan bunga pada nisannya sendiri.
Perpisahan hanyalah sastra yang bersorak-sorai akan pertemuan yang berakhir. Sastra yang bersorak-sorai akan langit dan laut yang tak lagi saling membantu. Sastra yang bersorak-sorai akan hangat yang meluruh sebab mereka tak lagi bersentuh.
Komentar
Posting Komentar