Sajak Tanpa Kamu (3): Setitik & Retaknya Bulan Purnama

Malam itu, Bulan tak tampak utuh. Ada kepingan harap yang kian merapuh. Retakannya memanjang dan mendalam. Dibuatnya Bulan meranyah dari balik jeruji awan. 

Malam itu, Bulan rawan tak sepenuhnya seorangan. Dipandangnya Setitik di bawah bumantara—menyapa dengan anggun dan damai. Angkasa pun dipaksa bersaksi kebijaksanaan semesta sementara Setitik dan Bulan menjadi tokoh utama. Sedang angin malam, memperantarai mantra semesta agar tiba pada keduanya.

Malam itu, Bulan tersadar dan sedikit gusar. Setitik mustahil sanggup menangkap ketulusan yang dijatuhkan padanya. Pun terlalu besar jika harus memeluk Bulan. Bahkan, mengaguminya saja bukan hal yang wajar.

Namun, malam itu, Bulan rela terbelah. Bulan rela meretakkan segala keras dan besar dirinya. Bulan rela menjadi sedebu ketulusan asal Setitik dapat memeluknya bersahaja. Bulan rela.

Komentar

Postingan Populer