Sepasang Kaki Kecil
Sepasang kaki kecil menapaki jalan hidup yang baru saja dimulai. Sekitarnya masih pepohonan—rimbun lebat. Tak ada napas lain yang berembus dari sana. Hanya kesejukan, kerindangan, ketenteraman, kenyaman. Eh, bukan-bukan, ini kesendirian. Bukan seperti yang diceritakan.
Sepasang kaki kecil melangkahkan dirinya yang kanan disusul yang kiri. Berulang hingga lima kali. Sekitarnya masih pepohonan—rimbun lebat. Kali ini terdengar samar—di telinga kiri angin meraba dedaunan mesra. Tapi angin hanyalah angin—cepat berlalu. Jalan masih panjang. Seribu juta langkah lagi.
Sepasang kaki kecil tak beralas terus memijaki kerikil. Sekitarnya masih pepohonan—rimbun lebat. Kedua tapaknya keras—sudah berjalan bertahun-tahun. Terbentur, perih. Terbentur, perih—jutaan kali.
Sepasang kaki kecil mati rasa, tapi tidak dengan indranya. Ia menapak lebih kuat, melangkah lebih mantap. Sekitarnya masih pepohonan—rimbun lebat. Kicauan tulus pejantan meminang betina di sini dan di sana. Sementara angin masih senang menggoda dedaunan. Membuat ia bergoyang meski nanti berguguran.
Komentar
Posting Komentar