Ke mana?

Aku kurang cermat membaca peta. Tidak akurat melihat legenda sehingga ku salah kira. Menafsirkan samudra sebagai genangan kecil yang dengan mudahnya aku lompati. Salah mendaki gunung berapi yang saat itu sedang erupsi.

Aku buta arah membaca mata angin. Arah yang kutuju malah berlawanan dengan arah yang kuingin. Tak kutemui pagar rumahmu di sana. Tak kulihat pohon mangga yang saat itu sedang musimnya. 

Aku tak paham angka kedalaman. Tak mampu membedakan laut mana yang dapat kuselami, atau mana yang bisa membuatku mati.

Tapi satu waktu, kupercayakan lagi tujuanku pada legenda. Aku kecewa, ia tidak mengenal bentuk rumahnya—dan jalanan tak mengetahui arah ke sana. Aku keliru memilih peta. Aku tersesat. 


Komentar

Postingan Populer