Sajak Tanpa Kamu (2): Perkenalkan, Aku
Akulah awan hitam yang mendungnya tak diharapkan. Yang tiap rintik hujannya kamu keluhkan sebab kebasahan dan kedinginan. Dan petir bersahutan yang sedari awal mengiringi kedatangan—membuatmu takut bertatapan.
Akulah yang meneriakkan namamu di tengah keramaian. Meski akhirnya, mulut ini kusumpal sebab kau masih saja tak kunjung mendengar. Oh, atau mungkin lubang telingamu saja yang kurang besar.
Akulah yang menggantungkan rindu pada angin malam. Aku pula, orang yang sama yang menghirupnya seorangan. Yang kelak 'kan kuembuskan kepadamu di ujung penantian.
Dan mencintaimu adalah cara bunuh diri yang paling aku nikmati.
Komentar
Posting Komentar