Lelaki Purnama

Ia bukan pria yang hanya dimiliki satu wanita. Ia harus pulang pada dua rumah yang berbeda. Menjadi kepala untuk dua keluarga. Membagi cinta dan cerita yang harusnya aku terima.

Tiap tertidur malam, mungkin ia satu-satunya jiwa yang menyayangiku dalam kesalahpahaman. Yang menginginkan pertemuan tanpa ada kecanggungan. Yang lebih suka diam tanpa bergumam.

Ia bukan pria yang tiap pagi menyeruput kopi. Ia memilih segelas teh untuk menemani luka yang dialami—meskipun aku tak melihatnya lagi di setiap pagi.

Tiap sempat yang kudapat, mungkin ia satu-satunya raga yang ingin aku dekap. Yang meluluhkan keras hati untuk tidak saling menatap. Yang akhirnya kalah dalam sekejap karena rindu yang tak mengaku.

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer